21/Desember/2025-20.00 | Redaksi PARAMIDSN
Surabaya,Paramidsn.com- Ukurannya hanya sekecil titik, namun dampak dari gigitannya bisa mengubah hidup secara permanen. Kutu Lone Star Tick (Amblyomma americanum), yang umum ditemukan di wilayah selatan dan timur Amerika Serikat, dikaitkan dengan kondisi alergi langka namun serius yang dikenal sebagai Alpha-Gal Syndrome (AGS).
AGS dikenal unik dan berbahaya karena secara efektif dapat melarang penderitanya mengonsumsi daging merah mamalia (seperti sapi, babi, dan kambing) untuk jangka waktu yang sangat lama, bahkan seumur hidup.
Fenomena ini terjadi ketika Lone Star Tick menggigit manusia dan menyuntikkan molekul gula bernama alpha-gal (galactose-a-1,3-galactose) ke dalam aliran darah.
Karena alpha-gal juga secara alami ditemukan dalam daging merah mamalia, sistem kekebalan tubuh beberapa orang yang terpapar gigitan kutu ini menjadi "Salah Mengenali". Mereka mulai memproduksi antibodi terhadap alpha-gal, menganggapnya sebagai ancaman.
Akibatnya, ketika mereka mengonsumsi daging merah di kemudian hari, tubuh memicu reaksi alergi yang parah.
Salah satu aspek paling membingungkan dari AGS adalah waktu munculnya gejala yang tertunda. Gejala sering kali baru muncul 3 hingga 6 jam setelah makan daging merah, bukan secara instan.
Penundaan ini membuat banyak penderita kesulitan mengaitkan gejala mereka dengan konsumsi daging, sehingga seringkali membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Gejala AGS bervariasi dari gatal-gatal, mual, muntah, hingga pembengkakan parah pada bibir dan tenggorokan, bahkan bisa berujung pada anafilaksis—reaksi alergi yang mengancam jiwa.
Saat ini, belum ada obat untuk menyembuhkan Alpha-Gal Syndrome. Meskipun pada beberapa kasus alergi bisa mereda jika penderita tidak lagi digigit kutu selama bertahun-tahun, banyak yang terpaksa melakukan perubahan pola makan secara permanen.
Para ahli kesehatan menekankan bahwa pencegahan adalah pertahanan terbaik, terutama bagi mereka yang sering beraktivitas di daerah berumput atau hutan di wilayah endemi kutu ini. Langkah pencegahan meliputi:
.Mengenakan pakaian tertutup.
.Menggunakan repellent serangga yang efektif.
.Memeriksa seluruh tubuh dan hewan peliharaan setelah beraktivitas di luar ruangan.
Kasus AGS menjadi pengingat yang kuat bahwa bahaya di alam seringkali datang dari makhluk yang paling kecil dan diremehkan.
Penulis : Dila
Editor : Ali Maruf
Foto By: iNaturalist