Oktober, 23 2025-19.25| Redaksi PARAMIDSN
Surabaya, paramidsn.com -
Di hutan-hutan lembap Selandia Baru, ketika malam turun dan suara serangga mulai menggema, muncul sosok burung yang tak bisa terbang namun memiliki pesona luar biasa — Kakapo (Strigops habroptilus). Burung ini dikenal sebagai burung beo nokturnal terbesar dan terberat di dunia, sekaligus satu-satunya beo yang hidup di malam hari dan tidak bisa terbang. Dengan bulu berwarna hijau lumut berpadu kuning kehijauan, Kakapo mampu berkamuflase sempurna di antara pepohonan pakis dan lumut tebal khas hutan Selandia Baru. Meski tubuhnya gemuk dan gerakannya lamban, Kakapo memiliki kepribadian lembut dan rasa ingin tahu yang tinggi dan menjadikannya salah satu burung paling disayangi oleh para peneliti dan pecinta satwa liar.
Kakapo adalah makhluk yang benar-benar unik dalam dunia burung, tidak seperti kebanyakan burung beo lainnya yang hidup di tanah dan berjalan dengan langkah pelan serta lebih banyak memanjat pohon dibanding terbang. Burung jantan memiliki kebiasaan luar biasa saat musim kawin yaitu mereka membuat lekukan di tanah yang disebut track-and-bowl system, lalu mengeluarkan suara “boom” yang dalam dan menggema hingga beberapa kilometer untuk menarik perhatian betina. Proses ini bisa berlangsung selama berminggu-minggu, menunjukkan betapa besar usaha mereka untuk melanjutkan keturunan di tengah populasi yang semakin menipis. Namun di balik keunikannya, Kakapo menyimpan kisah tragis karena pernah tersebar luas di seluruh Kepulauan Selandia Baru, tetapi sejak kedatangan manusia dan hewan predator seperti tikus, kucing, serta musang, populasi mereka menurun drastis. Kakapo tidak memiliki kemampuan bertahan dari predator darat karena berevolusi di lingkungan tanpa pemangsa mamalia. Akibatnya, pada tahun 1990-an jumlahnya sempat menyusut hingga kurang dari 50 ekor. Kini, berkat upaya konservasi intensif oleh New Zealand Department of Conservation, populasi Kakapo mulai meningkat secara perlahan. Pada tahun 2024, tercatat sudah ada lebih dari 240 individu yang hidup di pulau-pulau bebas predator seperti Codfish Island dan Anchor Island.
Setiap individu Kakapo memiliki nama dan catatan genetika yang sangat rinci, bahkan peneliti menggunakan teknologi DNA dan sistem pemantauan satelit untuk mengawasi pergerakan dan kesehatan masing-masing burung. Upaya ini menunjukkan betapa berharganya setiap kehidupan dalam populasi kecil tersebut. Selain perlindungan di alam liar, berbagai program edukasi publik juga digalakkan untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga spesies yang hanya ada di satu tempat di dunia ini.
Kakapo bukan sekadar burung langka, melainkan simbol harapan dan ketekunan manusia dalam menyelamatkan kehidupan liar dari ambang kepunahan. Setiap keberhasilan penetasan anak Kakapo baru menjadi kabar besar bagi para konservasionis, seolah menjadi bukti bahwa ketekunan dan kasih sayang terhadap alam masih bisa mengubah masa depan spesies yang hampir punah. Dalam keheningan malam hutan Selandia Baru, suara “boom” Kakapo yang menggema kini menjadi tanda bahwa kehidupan masih terus berjuang, meski di tepi jurang kepunahan.
Referensi
https://en.wikipedia.org/wiki/K%C4%81k%C4%81p%C5%8D
https://www.doc.govt.nz/kakapo-recovery
Penulis : Vivi Yunita
Editor : Ali Maruf
Foto By : Wikipedia