24/November/2025-15.00 | Redaksi PARAMIDSN
Surabaya,Paramidsn.com - Setiap manusia harus menyadari dampak perubahan iklim terhadap satwa liar. Jika kita semua berubah sedikit saja untuk lebih peduli dalam menghindari produk berbahaya bagi alam, kita akan mengubah planet bumi demi kebaikan semua orang.
Sebuah postingan yang cukup memilukan akhir akhir ini bermunculan di jagat internet dimana Nicklen dan timnya dari Sea Legacy awalnya mengira sosok pucat itu selimut yang dibuang. Lalu, sosok itu bergerak. Apa yang mereka lihat menghancurkan mereka. Nicklen, yang telah menghabiskan hidupnya memotret beruang kutub, berkata dengan sederhana: “Ketika Anda melihat sesuatu seperti itu, ada sesuatu yang menghancurkan di dalam diri Anda.”
Ternyata itu adalah seekor beruang kutub seberat 450 kg yang dulunya megah kini tinggal kerangka rapuh yang terhuyung-huyung. Bulunya tergerai longgar di atas tulang-tulangnya saat ia menyeret kaki belakangnya di tanah tandus, terlalu lemah untuk berdiri tegak.
Rekaman yang diambil oleh fotografer National Geographic Paul Nicklen di Pulau Baffin ini menjadi seruan untuk bangun global, memaksa jutaan orang untuk menghadapi kenyataan
Gerakan beruang yang lambat dan menyakitkan menceritakan keseluruhan cerita. Dengan rasa haus dan putus asa, ia terhuyung-huyung menuju tong sampah tua, mengais-ngais isinya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Tidak ada apa-apa. Predator puncak, yang diciptakan untuk berburu di atas es, dihukum untuk mati di darat karena es yang diandalkannya telah lenyap.
Seiring dengan menyusutnya musim es akibat suhu yang lebih hangat, beruang-beruang terdampar di daratan lebih lama dari sebelumnya—tidak dapat berburu, tidak dapat bertahan hidup. Meskipun beberapa orang berpendapat bahwa beruang ini mungkin sudah tua atau sakit, Nicklen menekankan bahwa kondisi beruang tersebut melambangkan kebenaran yang lebih besar: seperti inilah masa depan spesies ini. Dengan hanya sekitar 26.000 beruang kutub yang tersisa—dan jumlahnya diperkirakan akan berkurang hampir sepertiganya pada tahun 2050
Gambar beruang kelaparan itu masih terpampang di internet, sebuah pengingat yang menghantui akan harga yang harus dibayar jika kita tidak bertindak. Gambar itu menimbulkan pertanyaan yang menyakitkan jika kita bisa menyaksikan predator terhebat di Arktik menghilang seperti ini, apa harapan yang tersisa bagi planet kita?
Referensi:
https://www.facebook.com/share/p/1A9Bdce13M/
Penulis : Ali Maruf
Editor : Dilla
Foto By : Nicklen